Seribuan Warga Dayak Bersenjata Tajam Tolak FPI di Pontianak

Melanjutkan aksi  kemarin (14/3) yang hanya diikuti oleh ratusan warga Dayak, hari ini (15/3) sekitar seribuan orang bersenjata golok dan mandau (senjata tajam khas Dayak) kembali melakukan aksi menolak FPI di Kalimantan Barat (Kalbar).

Aksi hari ini lebih memanas karena aksi penurunan spanduk dan atribut FPI oleh warga Dayak kemarin mendapat tantangan oleh FPI dengan aksi mengibarkan kembali beberapa spanduk FPI di beberapa lokasi termasuk di depan asrama Pangsuma pelajar dan mahasiswa Dayak di jalan Sutoyo, Pontianak. Akibatnya beberapa anggota FPI mendatangi asrama penginapan mahasiswa Dayak tersebut. Hari ini para ketua suku Warga Dayak dan orang tua yang dihormati berkumpul di Pendopo Gubernur.

Hasil kesepakaatan antara petinggi suku Dayak, menolak keberadaan FPI di Pontianak dan Kalbar. Massa dari warga Dayak mulai bergerak. Setelah berkumpul di bundaran tugu bambu (dekat Universitas Tanjung Pura) pada pukul 16.05 kelompok yang diperkirakan dari mahasiswa, pelajar dan warga biasa melakukan aksi berjalan kaki ke gedung DPRD dan POLDA Kalimantan Barat tepatnya di jalan Ahmad Yani. Hadirnya warga Dayak dalam jumlah banyak menghunuskan senjata tajam menolak  keberadaan FPI di Kalimantan Barat membuat warga yang terpana bercampur ketakutan.

Wajar saja warga takut karena khawatir aksi tersebut ditunggangi kelompok anarkis yang dapat memicu pergesekan horizontal. Sampai saat ini masyarakat kota Pontianak masih menganggap aksi tersebut hal yang mengkhawatirkan namun warga bersyukur karena tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dalam setiap aksi  massa yang turun dari jalan ke jalan sejak kemarin. Meskipun demikian polisi bersenjata lengkap dan kesatuan dari TNI AD tampak berjaga-jaga di beberapa persimpangan jalan. Selain itu dalam kerumunan kelompok tersebut sebagian intel dari polisi dan TNI  juga berbaur dengan warga yang melakukan aksi. Dalam setiap pergerakan kelompok tersebut dikawal oleh satuan polisi laulintas dan brimob dari Polda Kalbar. Sulit bagi kita menganalisis mengapa

masyarakat Dayak menolak keberadaan FPI, yang jelas ummat Islam dan dari agama manapun selama ini dan sampai saat ini bebas menjalankan ibadah dan berinteraksi dengan baik sekali. Oleh karenanya sulit bagi kita menilai dan memberi analisis apakah menerima FPI atau menolak FPI termasuk dalam katagori menjalankan syariat dan menolak syariat Islam? Banyak pendapat dan tulisan pro dan kontra tentang keberadaan FPI di seluruh Kalimantan. Oleh karena itu tanpa bermaksud memancing pro dan kontra mari kita cermati situasi dan kondisi ini dengan sebuah catatan yaitu prinsip Bhinneka Tunggal Ika musti dihidupkan kembali dalam setiap sanubari warga yang merasa sebagai bangsa Indonesia dimanapun berada.

Ada atau tidak ada pihak ke tiga yang mencoba membangkitkan makar dan friksi antar etnis patut diwaspadai dengan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Bangsa yang sarat dengan praktek korupsi dan bencana alam. Semuanya telah membuat kita menjadi bangsa yang tertinggal dalam pembangunan mental, idiologi dan infrastruktur. Kondisi itu semua membuat bangsa kita seperti mundur ke masa-masa silam, berbeda dengan situasi dan kondisi bangsa negara-negara tetangga kita yang justru telah makmur dan maju dalam berbagai bidang.

Oleh karenanya janganlah sampai kita mundur total, janganlah sampai negara ini tercabik-cabik oleh keinginan yang TIDAK mengacu kepada ke-bhineka tunggal ika-an. Saat tulisan ini akan diakhiri, penulis yang berada di dekat gedung DPRD Kalbar mendengarkan suara teriakan anti FPI. Beberapa diantara  massa memasuki rumah-rumah penduduk dekat gedung DPRD. Keributan kecil terjadi di depan pompa bensin namun dapat dicegah warga dan aparat keamanan berpakaian preman. Setengah jam lalu, rombongan aksi anti FPI telah bergerak kembali ke bundaran Universitan Tanjung Pura.Semoga situasi segera membaik.. Demikian  reportase dari Pontianak, Kalbar.


0 Response to "Seribuan Warga Dayak Bersenjata Tajam Tolak FPI di Pontianak"

Post a Comment