Ahok Dinyatakan Tak Bersalah Tentang Penistaan Agama

EllenNews.com - Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperkuat fatwa penistaan agama, kitab suci, dan ulama yang dilakukan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tapi fakta hukum positif di Indonesia belum keluar dari pengadilan karena kasusnya masih dalam tahap penyelidikan di Kepolisian.

"Saya kira kalau sampai pengadilan menyatakan Ahok tidak bersalah, artinya pemerintah telah membuat jarak yang jauh dengan umat Islam," ujar anggota Pimpinan Pusat Aisyiyah, Nurni Akma di Jakarta.

Karena itu pula, dia menyimpulkan bahwa telah terjadi kezaliman yang terstruktur di negeri ini. Pasalnya, pemerintah seharusnya dapat melihat bagaimana pergolakan yang ada ketika Ahok selalu tak tersentuh di beberapa kasus sebelumnya, seperti contoh pembelian lahan Sumber Waras, dan kasus reklamasi.

"Kami mengharapkan Kepolisian dan hakim tidak merekayasa, karena ini sudah nyata, para ahli pun sudah berbicara. Kalau sampai Ahok kembali tak tersentuh maka umat Islam di negeri ini akan bergerak," ungkapnya.


MUI bersikeras bahwa apa yang dilakukan Ahok di Kepulauan Seribu medio September lalu telah memenuhi unsur pidana. Dengan begitu, enam poin hasil rapat pleno Dewan Pertimbangan MUI dengan kesimpulan memperkuat fatwa penistaan agama yang dilakukan Ahok akan diserahkan langsung kepada pemerintah dan penegak hukum.

Harapannya, ketentuan itu dapat menjadi rujukan utama dalam menangani proses hukum masalah dugaan penistaan agama oleh Ahok.

Dalam persoalan ini Dewan Pertimbangan menegaskan, bahwa kata "pakai" atau dihilangkannya kata tersebut dalam transkrip pernyataan Ahok tidak akan mempengaruhi keputusan Majelis Ulama Indonesia bahwa telah terjadi penistaan agama.

"Jadi mohon dipahami bahwa penistaannya itu ada pada sikap menyalahkan pemahaman orang lain dengan menggunakan kata negatif yaitu "dibohongi". Berarti ada subjek dan objek dalam persoalan ini," kata Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin.

Dengan begitu, dia menyarankan agar lebih baik pemerintah dan penegak hukum tidak bermain dalam persoalan tersebut. Pasalnya, Din meyakinkan dengan mengutak-atik penggunaan kata "pakai" atau dihilangkannya kata tersebut justru akan menimbulkan persoalan baru.

Bukan justru menyelesaikan persoalan yang telah mengakibatkan tensi tinggi umat Islam terhadap Ahok. "Saya khawatir ini justru akan menimbulkan masalah baru di tengah umat," terangnya.

16 Responses to "Ahok Dinyatakan Tak Bersalah Tentang Penistaan Agama"

  1. Bisane Aki Alih...??? apa hubungane cuy...??

    ReplyDelete
  2. ya kok malah dukun togel ...asemm...

    ReplyDelete
  3. hahahahha...kok malah dukun togel sing njawab ndisik

    ReplyDelete
  4. Din Syamsuddin kasih kode alam ya dibahas sama dukun togel wkwkwkwk lucu

    ReplyDelete
  5. Untuk memaknai isi satu ayat dalam kitab suci (contohnya Alkitab karena saya Kristen) terutama ayat yang sedikit rumit kata2nya, diperlukan ayat2 pendukung lainnya. Contohnya: Titah /perintah ke 4 Tuhan yg intinya memerintahkan agar tidak beraktifitas/bekerja pada hari Minggu.
    Kalau diartikan secara harfiah berarti terjadi pelanggaran bila bekerja hari Minggu.
    Lantas bgmn kalau peternak, kalau hari Minggu ternak tidak diberi maka, bisa mati ternaknya.
    Untuk itu ada ayat yang lain yang intinya memberi pemahaman bahwa kita bisa bekerja/beraktifitas sesuai urgensinya, asal tidak lupa beribadah.

    SAYA kira hal demikian juga pasti terjadi pada kitab agama lain (Islam, Budha, Hindu dll)

    Terkait Al Maidah 51, saya kira bila hanya berpatokan ayat tsb otomatis umat Islam melanggar bila memilih pimpinan (mis:gubernur) non Islam, misalnya Ahok.

    Tetapi saya yakin (walau tdk membaca) ada ayat2 lain yang pada kondisi tertentu bisa memilih pimpinan non Islam.

    Terkait potato Ahok, dia tak lebih dari sekedar menceritakan pengalaman pribadi saat pilbup Belitung yg mana ada pihak2 yang berupaya menjegalnya dengan selalu menngutip Al Maidah 51. Namun Ahok tetap menang, padahal mayoritas penduduk Islam.

    Di pilgub DKI pun Ahok berupaya dijegal dgn metode yg sama. Hal itulah yang diceritakan Ahok saat di Kepulauan Seribu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf sebelumnya bpk..
      Bukankah ingat dan kuduskan hari sabat ya pak??
      Maaf di alkitab saya hukum ke 4..kel 20:8 di katakan sabat pak bukan minggu ☺☺

      Delete
    2. Maaf sebelumnya bpk..
      Bukankah ingat dan kuduskan hari sabat ya pak??
      Maaf di alkitab saya hukum ke 4..kel 20:8 di katakan sabat pak bukan minggu ☺☺

      Delete
    3. Lupa kali dia, maklumi dan koreksi aja

      Delete
  6. Untuk memaknai isi satu ayat dalam kitab suci (contohnya Alkitab karena saya Kristen) terutama ayat yang sedikit rumit kata2nya, diperlukan ayat2 pendukung lainnya. Contohnya: Titah /perintah ke 4 Tuhan yg intinya memerintahkan agar tidak beraktifitas/bekerja pada hari Minggu.
    Kalau diartikan secara harfiah berarti terjadi pelanggaran bila bekerja hari Minggu.
    Lantas bgmn kalau peternak, kalau hari Minggu ternak tidak diberi maka, bisa mati ternaknya.
    Untuk itu ada ayat yang lain yang intinya memberi pemahaman bahwa kita bisa bekerja/beraktifitas sesuai urgensinya, asal tidak lupa beribadah.

    SAYA kira hal demikian juga pasti terjadi pada kitab agama lain (Islam, Budha, Hindu dll)

    Terkait Al Maidah 51, saya kira bila hanya berpatokan ayat tsb otomatis umat Islam melanggar bila memilih pimpinan (mis:gubernur) non Islam, misalnya Ahok.

    Tetapi saya yakin (walau tdk membaca) ada ayat2 lain yang pada kondisi tertentu bisa memilih pimpinan non Islam.

    Terkait potato Ahok, dia tak lebih dari sekedar menceritakan pengalaman pribadi saat pilbup Belitung yg mana ada pihak2 yang berupaya menjegalnya dengan selalu menngutip Al Maidah 51. Namun Ahok tetap menang, padahal mayoritas penduduk Islam.

    Di pilgub DKI pun Ahok berupaya dijegal dgn metode yg sama. Hal itulah yang diceritakan Ahok saat di Kepulauan Seribu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf sebelumnya pak Tom, kita perlu menggaris bawahi pangkal masalahnya... penyebutan Al Maidah 51 oleh Ahok bukan hy sekali tapi 5x dlm pertemuan yg berbeda, hanya saja pernyataan beliau dikepulauan seribu yg dipublikasikan. Alasannya ada kekhawatiran beliau bhw lawan politiknya akan menggunakan Al Qur'an utk mengalahkan beliau mengingat penduduk Jakarta mayoritas muslim.apapun tujuan beliau utk mengutip ayat suci agama lain yg bukan agamanya utk meyakinkan orang yg hadir tetap kita salahkan krn begitu banyak perbendaharaan kata yg bisa beliau gunakan utk menyakinkan orang tanpa hrs masuk ke area yg sensitif (agama) yg bukan kapasitas beliau utk menyampaikannya.

      Delete
    2. Maaf sebelumnya pak Tom, kita perlu menggaris bawahi pangkal masalahnya... penyebutan Al Maidah 51 oleh Ahok bukan hy sekali tapi 5x dlm pertemuan yg berbeda, hanya saja pernyataan beliau dikepulauan seribu yg dipublikasikan. Alasannya ada kekhawatiran beliau bhw lawan politiknya akan menggunakan Al Qur'an utk mengalahkan beliau mengingat penduduk Jakarta mayoritas muslim.apapun tujuan beliau utk mengutip ayat suci agama lain yg bukan agamanya utk meyakinkan orang yg hadir tetap kita salahkan krn begitu banyak perbendaharaan kata yg bisa beliau gunakan utk menyakinkan orang tanpa hrs masuk ke area yg sensitif (agama) yg bukan kapasitas beliau utk menyampaikannya.

      Delete
    3. kalau ahok menyinggung surat Almaidah,karena alasan bahwa umat muslim slalu menghunakan ayat tersebut untuk menghina ahok...harusnya umat muslim tidak menghina orgkan ya pak?apalagi pakai ayat Alquran...di alkitab tidak mengajarkan kami mengihina agama lain soalnya pak.heheheheheee...

      Delete
  7. Tidak ada yg tidak mungkin bagi Tuhan.
    Go go Ahok....Tuhan besertamu

    ReplyDelete
  8. Buat partai pendukung ahok sadar lah bahwa gerakan sekarang ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan ahok tapi untuk mempermalukan ke 4 partai pendukung nya. Sekarang ini masa kampanye, calon anda2 sedang di obok2, kalian kayanya tenang 2 aja. Ahok tergusur, bukan kami dan teman ahok lagi yg dibuat malu, tapi kalian yang dianggap tidak mampu membela calon yg kalian dukung sekaligus bye bye buat pemilu 2019. Coba para ketum duduk bareng dan keluarkan satu memorandum bersama sebelum ahok benar 2 terlempar dari panggung pilkada dki. Ingat aja bahwa apapun yg terjadi di dki, selalu akan disamakan dengan apa yang akan terjadi di pemilu nanti. Salam 2 jari.

    ReplyDelete
  9. Semua beropini, tp ingat kita Negara hukum, sebagai warga Negara yg baik alangkah baiknya kita menghormati yg namanya proses hukum, kalau misalnya di nyatakan tidak bersalah, semua masyarakat harus menerima baik suka maupun tidak suka. Kalaupun di nyatakan bersalah harus trma juga baik suka maupun tdk suka, dan bagi saya itu tidak masalah kalau pak ahok harus di penjara, karena Firman Tuhan bilang kalau mau ikut Kristus kita harus pikul salib, di caci, di. Maki, di fitnah, dan bunuh org, itu sudah di kontekskan sama Alkitab!kita gak usah menghakimi karena nantinya kita akan ttp di hakimi sesuai dengan perbuatan kita! Pembalasan akan tetap ada tetapi biarlah Tuhan yg berbicara. ��

    ReplyDelete